Showing posts with label Lokal. Show all posts
Showing posts with label Lokal. Show all posts

Pemerintah Aceh Bangkrut Jika Tidak Dibantu ...

Penerapan status otsus di Aceh belum beri banyak keuntungan secara ekonomis kepada masyarakat.

Jika tidak didukung oleh dana otonomi khusus (otsus) dari pemerintah pusat setiap tahunnya, Aceh terancam bangkrut. Alasannya, pendapatan asli daerah (PAD) tidak seimbang dengan pengeluaran pemerintah. Bahkan pada 2013, anggaran untuk belanja pegawai yang meningkat hingga 8,81 persen jauh dari total peningkatan PAD.
“Selama ini, Aceh hanya bisa hidup karena adanya dana otsus dari pemerintah pusat. Jika dana tersebut tidak ada lagi, maka Aceh akan bangkrut, karena pengeluaran pemerintah jauh lebih besar dari pendapatan,” kata Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian, di Banda Aceh, Senin (4/2).

Sekalipun dana otsus sudah digelontorkan dalam jumlah besar, namun, kata Alfian, dampaknya bagi masyarakat sangat minim. “PAD 2012 hanya Rp 804,2 miliar. Tahun 2013, PAD Aceh tergetnya sama, tapi pengeluarannya meningkat. Keuangan Aceh sangat bergantung dari pusat,” katanya.

APBD Aceh 2013 ditargetkan Rp 11,785 triliun, sementara total pendapatan hanya Rp 10,1 triliun atau defisit Rp 1,6 triliun. “Stagnannya penerimaan PAD membuat keuangan Aceh sangat riskan. Apalagi alokasi untuk belanja pegawai meningkat,” katanya.

Pada 2013, Aceh harus harus mengeluarkan dana Rp 1,621 triliun untuk belanja pegawai, dengan rincian di pos belanja tidak langsung Rp 974,2 miliar dan pos belanja langsung Rp 647,4 miliar. Namun DAU Aceh hanya Rp 1,092 triliun.

Jika kekurangan dana belanja pegawai Rp 529,267 itu diambil dari PAD, 65,81 persen PAD Aceh akan terserap untuk belanja PNS. Dana untuk masyarakat umum sangat kecil. “Jika hal ini tidak segera diantisipasi, maka tanpa dana otsus, Aceh akan bangkrut,” ujar Alfian. Dalam APBD Aceh 2013, jumlah pegawai negeri sipil (PNS) di Aceh mencapai 8.990 orang. Sementara tahun 2012 mencapai 9.010. Namun, sekalipun jumlah PNS berkurang, alokasi dana bertambah.

Sementara itu, Kepala Divisi Kebijakan Publik GeRAK (Gerakan Anti Korupsi) Aceh, Isra Safril, mengatakan penambahan alokasi anggaran PNS akibat dari Surat Gubernur Aceh No 903/3883 yang ditujukan kepada Ketua DPRA tertanggal 21 Januari 2013. “Penambahan alokasi anggaran dilakukan secara tiba-tiba, yang lebih diarahkan untuk program pemberdayaan ekonomi masyarakat, operasional rutin satuan kerja, bantuan kepada pemerintah kabupaten/kota, dana untuk operasional Wali Nanggroe,” katanya.

Penambahan alokasi anggaran dalam APBD Aceh sebesar Rp 1,842 triliun, menurutnya, tidak konsisten dengan perencanaan penganggaran. Karena itu, kata Isra, pihaknya mendesak Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk mengevaluasi APBD Aceh 2013. “Mendagri juga harus memerintahkan Pemerintah Aceh dan DPR Aceh untuk merasionalkan pagu anggaran usulan dalam RAPBA 2013 agar tidak terjadinya penyelewangan anggaran di kemudian hari, selain itu pengusulan anggaran yang dilakukan tiba-tiba dapat menyebabkan anggaran yang tidak sehat,” katanya.
Sumber : Sinar Harapan
Baca terus ...

Sejarah dan Asal Usul Tahu Kuning Kediri

Tahu adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan dan diambil sarinya. Berbeda dengan tempe yang asli dari Indonesia, tahu berasal dari Cina, seperti halnya kecap, tauco, bakpau, dan bakso. Tahu adalah kata serapan dari bahasa Hokkian (tauhu) (Hanzi: 豆腐, hanyu pinyin: doufu) yang secara harfiah berarti "kedelai yang difermentasi". Tahu pertama kali muncul di Tiongkok sejak zaman Dinasti Han sekitar 2200 tahun lalu. Penemunya adalah Liu An (Hanzi: 劉安) yang merupakan seorang bangsawan, cucu dari Kaisar Han Gaozu, Liu Bang yang mendirikan Dinasti Han. Di Jepang dikenal dengan nama tofu. Dibawa para perantau China, makanan ini menyebar ke Asia Timur dan Asia Tenggara, lalu juga akhirnya ke seluruh dunia. Sebagaimana tempe, tahu dikenal sebagai makanan rakyat. Beraneka ragam jenis tahu yang ada di Indonesia umumnya dikenal dengan tempat pembuatannya, misalnya tahu Sumedang dan tahu Kediri.
Beberapa Macam Tahu di Indonesia
Dalam versi lain, kata tahu berasal dari bahasa Cina: tao-hu, teu-hu, atau tokwa. Tao atau teu berarti kacang (kedelai). Hu dan kwa berarti lumat. Dari sini nama Takwa berasal. Tetapi di Kediri, nama takwa itu diberikan khusus untuk tahu kuning guna membedakannya dengan tahu biasa yang berwarna putih.

Tahu Kuning Kediri (Tahu Takwa)
Kata "Tahu" sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Tua, muda, miskin, kaya pasti mengenal lauk satu ini. Masih belum tahu? . Kalo biasanya tahu itu warnanya putih, bentuknya kotak. Berbeda dengan ada yang di Kota Kediri, tahu di Kediri tidak berwarna putih tetapi berwarna kuning (ini karena dimasak dengan air yang dicampur dengan tumbukan kunyit dan sedikit garam) dan biasa disebut Tahu Takwa, dari segi tekstur, tahu takwa lebih padat dan berisi, dan dari segi rasa pastinya lebih gurih. Dan untuk lebih jelasnya, silahkan dilanjutkan bacanya


Sejarahnya Tahu Kuning Kediri

Pada tahun 1900, Indonesia mulai terjadi migrasi warga Tiongkok ke Indonesia. Dari ribuan imigran yang datang, beberapa diantaranya memasuki wilayah Kediri. Tiga dari beberapa imigran tadi, adalah pelopor pembuatan tahu, mereka adalah Lauw Soe Hoek (yang lebih dikenal dengan Bah Kacung), Liem Ga Moy, dan Kaou Loung. Hingga saat ini generasi penerus masih melanjutkan usaha yang dirintis oleh leluhurnya, kecuali Kaou Loung.

Klenteng di Kediri

Jalan Klenteng Tempo Dulu
Jalan Klenteng Sekarang
Sekarang nama jalannya berubah menjadi Jalan Yos Sudarso - Pusat Penjualan Tahu Kuning Kediri

Faktor utama yang mendorong pemilihan lokasi pembuatan tahu di Kediri, karena terdapat kesamaan karakteristik air dengan yang terdapat di Tiongkok. Putra Liem Ga Moy, Liem Djang Yen atau Bambang Suyendro mengungkapkan, "Proses pembuatan tahu ini tidak segampang membalikkan telapak tangan. Jenis air sangat berpengaruh terhadap hasil akhir."

Pada tahun 1912, Lauw Soe Hoek (Bah Kacung) mulai merintis usaha tahu. Sedangkan Liem Ga Moy mengawali usahanya pada tahun 1948, tetapi baru pada kisaran tahun 1950, usahanya mulai dikenal oleh masyarakat. Saat ini usaha tahu Bah Kacung dilanjutkan oleh cucunya A. Herman Budiono setelah putranya Yosef Seger Budi Santoso atau Lauw Sing Hian meninggal pada bulan Mei 2008.

Generasi Bah Kacung
Ketiga pelopor usaha pembuatan tahu di Kediri, senantiasa menjaga kualitas tahu mereka. Hal ini menjadikan hasil kerja keras mereka semakin dikenal luas oleh masyarakat dan turut mengangkat nama Kota Kediri hingga berujung pada disematkannya sebutan KOTA TAHU.


Perbedaan dalam pembuatan tahu

Salah satu alasan yang menjadikan tahu asal Kota Kediri sangat terkenal adalah karena proses produksinya yang tradisional. Namun seiring waktu, tahu buatan Liem Ga Moy dan Kaou Loung beralih menggunakan cara yang lebih modern.
Toko Bah Kacung
Saat ini hanya keturunan Bah Kacung yang mempertahankan cara tradisional untuk membuat tahu. Sementara yang lain beralih dengan alasan produktivitas. Proses pembuatan tahu secara tradisional dengan menggunakan peralatan yang masih terbuat dari kayu dan batu, serta dikerjakan secara manual dengan tenaga manusia,diklaim dapat membuat rasa tahu menjadi lebih gurih.

Dengan mempertahankan cara tradisonal tadi, kapasitas produksi tahu Bah Kacung menjadi terbatas. Malahan, sampai sekarang mereka tidak membuka cabang atau menitipkan tahunya ke agen manapun.
Hingga saat ini, sedikitnya 20 merek tahu kuning ada di Kota Kediri, yang keseluruhannya dikelola dan dijalankan oleh WNI keturunan Tionghoa. Mereka mengaku merupakan anak keturunan 3 tokoh pencetus industri tahu di Kota Kediri.

Rangkaian Tahu Terpanjang di Kediri Raih Rekor MURI
Dikutip dari detikSurabaya Minggu, 17/07/2011

Kediri - Asosiasi Pengusaha Tahu Kota Kediri mendapatkan rekor MURI dalam merangkai tahu kuning terpanjang. 23.150 Tahu kuning sepanjang 114 meter ini mengalahkan rangkaian tahu sebelumnya di Kota Semarang dengan panjang 102 meter.Pemecahan rekor MURI ini digelar di depan Balaikota Kediri, Jalan Basuki Rahmad, Minggu (17/7/2011) siang."Setelah kita mengukur dan menghitung, rangkaian tahu ini mengalahkan rekor sebelumnya di Semarang tahun 2008 lalu," kata Manager Pencatanan rekor Muri Indonesia (MURI), Desi Anesia kepada detiksurabaya.com.Sementara, Rudi, ketua asosiasi tahu Kediri mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian pengusaha tahu untuk Kota Kediri. "Kami ingin menunjukan bahwa Kediri adalah benar benar kota tahu," kata Rudi,.Sementara walikota Kediri Samsul Azhar menanggapi kegiatan pemecahan rekor tersebut tersebut untuk mengukuhkan Kediri sebagai Kota Tahu.

Video Pemecahan Rekor MURI:



Credit : 1  2  3  4

Baca terus ...

Sejarah Senjata Tradisional Ampuh dari Sulawesi Selatan : Badik

EWAKO, adalah sebuah kata yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis-Makassar....
Menurut Kamus Populer Inggris-Makassar Indonesia-Makassar, kata rewako merupakan terjemahan dari kata ‘berani’ dalam bahasa Indonesia, dan ‘brave’ dalam bahasa Inggris. Keberanian masyarakat Bugis-Makassar tergambar dalam semboyan pelaut Bugis-Makassar, yang juga menjadi petuah (pappasang) Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo:
Takunjunga bangunturu’ Takugunciri gulingku Kualleanna Tallanga Natoalia. 
Artinya: Tidak begitu saja aku ikut angin buritan. Aku akan putar kemudiku. Lebih baik aku tenggelam daripada balik haluan.
Mungkin kata-kata EWAKO ini memang cocok dengan senjata khas Sulawesi Selatan yang akan kita bahas yaitu "BADIK"

Badik atau badek adalah pisau dengan bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Badik bersisi tajam tunggal atau ganda. Seperti keris, bentuknya asimetris dan bilahnya kerap kali dihiasi dengan pamor. Namun demikian, berbeda dari keris, badik tidak pernah memiliki ganja (penyangga bilah).
Badik ini merupakan senjata khas tradisonal Makassar, Bugis dan Mandar yang berada dikepulauan Sulawesi. Ukurannya yang pendek dan mudah dibawa kemana mana, tapi jangan salah lho kalau badik ini sudah keluar dari sarungnya pantang untuk dimasukkan sebelum meminum darah.

Maka biasanya senjata adat yang bernama Badik ini dahulu sering dipakai oleh kalangan petani untuk melindungi dirinya dari binatang melata dan atau membunuh hewan hutan yang mengganggu tanamannya. Selain itu karena orang bugis gemar merantau maka penyematan badik dipinggangnya membuat dia merasa terlindungi.

Badik memiliki bentuk dan sebutan yang berbeda-beda tergantung dari daerah mana ia berasal. Di Makassar badik dikenal dengan nama badik sari yang memiliki kale (bilah) yang pipih, batang (perut) buncit dan tajam serta cappa dan banong (sarung badik). Sementara itu badik Bugis disebut kawali, seperti kawali raja (Bone) dan kawali rangkong (Luwu). Kawali Bone terdiri dari bessi (bilah) yang pipih, bagian ujung agak melebar serta runcing. Sedangkan kawali Luwu terdiri dari bessi yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian bagian: Pangulu (ulu), bessi (bilah) dan wanoa (sarung)

Umumnya badik digunakan untuk membela diri dalam mempertahankan harga diri seseorang atau keluarga. Hal ini didasarkan pada budaya siri' dengan makna untuk mempertahankan martabat suatu keluarga. Konsep siri' ini sudah menyatu dalam tingkah laku, sistem sosial budaya dan cara berpikir masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan. Selain dari pada itu ada pula badik yang berfungsi sebagai benda pusaka, seperti badik saroso yang memiliki nilai sejarah. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa badik berguna sebagai azimat yang berpengaruh pada nilai baik dan buruk seseorang.
Macam-macam Badik


1. Badik Raja (gecong raja, bontoala)
badik yang asalnya dari daerah kajuara kabupaten bone , dalam pembuatan badik ini,, orang2 disekitar kajuara sana masih percaya jika badik raja dibuat oleh makhluk halus, ketika malam, terdengar suara palu bertalu-talu dalam lanraseng gaib sampai paginya masyarakat sana menemukan jadilah sebuah badik raja,, badik ini bilahnya aga” besar ukurannya 20-25 cm, menurut bang ray divo, Ciri-ciri badik raja hampir mirip dengan badik lampobattang, bentuk bilahnya agak membungkuk, dari hulu agak kecil kemudian melebar kemudian meruncing. Pada umumnya mempunyai pamor timpalaja atau mallasoancale di dekat hulunya. Bahan besi dan bajanya berkualitas tinggi serta mengandung meteorit yang menonjol dipermukaan, kalau kecil disebut uleng-puleng kalau besar disebut batu-lappa dan kalau menyebar di seluruh permukaan seperti pasir disebut bunga pejje atau busa-uwae. Badik raja di masa lalu hanya digunakan oleh arung atau dikalangan bangsawan-bangsawan dikerajaan Bone.

2. Badik Lagecong
Badik lagecong,, Badik bugis satu ini dikenal sebagai badik perang, banyak orang mencarinya karna sangat begitu terkenal dengan mosonya (racunnya), banyak orang percaya bahwa semua alat perang akan tunduk pada badik gecong tersebut,,
ada dua versi , yang pertama ,Gecong di ambil nama dari nama sang pandre (empu) yang bernama la gecong, yang kedua diambil dari bahasa bugis gecong atau geco”, yang bisa diartikan sekali geco” (sentuh) langsung mati,,
sampai saat ini banyak yang percaya kalau gecong yang asli adalah gecong yang terbuat dari daun nipah serta terapung di air dan melawan arus,, wallahu alam,, panjang gecong biasanya sejengkalan orang dewasa, pamor lonjo,, bentuknya lebih pipih,tipis tapi kuat.

3. Badik Luwu
Badik luwu,, badik luwu yang berasal dari kabupaten luwu, bentuknya agak sedikit membungkuk, mabbukku tedong (bungkuk kerbau), bilahnya lurus dan meruncing kedepan,, badik bugis kadang diberikan pamor yang sangat indah, hingga kadang menjadi buruan para kolektor ..di bajanya terdapat rakkapeng atau sepuhan pada baja yang konon disepuh dengan bibir dan “maaf” alat kelamin gadis perawan sehingga konon tidak ada orang yang kebal dengan badik luwu ini,


4. Badik Lompo Battang (badik siperut besar/jantung pisang)
Badik lompo battang atau sari,, badik ini berasal dari Makassar, bentuknya seperti jantung pisang, ada jg yang bilang seperti orang hamil, makanya orang menyebutnya lompo battang (perut besar), konon katanya jika ada orang terkena badik ini, maka dia tidak akan bertahan dalam waktu 24 jam

sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13091532
Baca terus ...

Sejarah Panjang Kota Malang Sejak Zaman Prasejarah sampai Modern

Daerah Malang merupakan peradaban tua yang tergolong pertama kali muncul dalam sejarah Indonesia yaitu sejak abad ke 7 Masehi. Peninggalan yang lebih tua seperti di Trinil (Homo Soloensis) dan Wajak - Mojokerto (Homo Wajakensis) adalah bukti arkeologi fisik (fosil) yang tidak menunjukkan adanya suatu peradaban.
Peninggalan purbakala disekitar wilayah Kota Malang seperti Prasasti Dinoyo (760 Masehi), Candi Badut, Besuki, Singosari, Jago, Kidal dan benda keagamaan berasal dari tahun 1414 di Desa Selabraja menunjukkan Malang merupakan pusat peradaban selama 7 abad secara kontinyu.
CANDI BADUT

Malang merupakan wilayah kekuasaan 5 dinasti yaitu Dewasimha / Gajayana (Kerajaan Kanjuruhan), Balitung / Daksa / Tulodong Wawa (Kerajaan Mataram Hindu), Sindok / Dharmawangsa / Airlangga / Kertajaya (Kerajaan Kediri), Ken Arok hingga Kertanegara (Kerajaan Singosari), Raden Wijaya hingga Bhre Tumapel 1447 - 1451 (Kerajaan Majapahit).

MASA KERAJAAN KANJURUHAN

Kerajaan Kanjuruhan menurut para ahli purbakala berpusat dikawasan Dinoyo Kota Malang sekarang. Salah satu bukti keberadaan Kerajaan Kanjuruhan ini adalah Prasasti Dinoyo yang saat ini berada di Museum Jakarta. Prasasti Dinoyo ditemukan di Desa Merjosari (5 Km. sebelah Barat Kota Malang), di kawasan Kampus III Universitas Muhammadiyah saat ini. Prasasti Dinoyo merupakan peninggalan yang unik karena ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bukan huruf Pallawa sebagaimana prasasti sebelumnya. Keistimewaan lain adalah cara penulisan tahun berbentuk Condro Sangkala berbunyi Nayana Vasurasa (tahun 682 Saka) atau tahun 760 Masehi. Dalam Prasasti Dinoyo diceritakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan sebagaimana berikut :

  • Ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja yang sakti dan bijaksana dengan nama Dewasimha
  • Setelah Raja meninggal digantikan oleh puteranya yang bernama Sang Liswa
  • Sang Liswa terkenal dengan gelar Gajayana dan menjaga Istana besar bernama Kanjuruhan
  • Sang Liswa memiliki puteri yang disebut sebagai Sang Uttiyana
  • Raja Gajayana dicintai para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketentraman diseluruh negeri
  • Raja dan rakyatnya menyembah kepada yang mulia Sang Agastya
  • Bersama Raja dan para pembesar negeri Sang Agastya (disebut Maharesi) menghilangkan penyakit
  • Raja melihat Arca Agastya dari kayu Cendana milik nenek moyangnya
  • Maka raja memerintahkan membuat Arca Agastya dari batu hitam yang elok

Salah satu Arca Agastya ada di dalam kawasan Candi Besuki yang saat ini tinggal pondasinya saja. Bukti lain keberadaan Kerajaan Kanjuruhan adalah Candi Badut yang hingga kini masih cukup baik keadaannya serta telah mengalama renovasi dari Dinas Purbakala. Peninggalan lain adalah Patung Dewasimha yang berada di tengah Pasar Dinoyo saat ini.

MASA KERAJAAN MATARAM HINDU

Keturunan Dewasimha dan Gajayana mundur sejalan dengan munculnya dinasti baru di daerah Kediri yaitu Balitung, Daksa, Tulodong dan Wawa yang merupakan keturunan Raja Mataram Hindu di Jawa Tengah. Balitung (898 - 910) adalah Raja Mataram pertama yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dinasti ini memusatkan kekuasaannya di daerah Kediri yang lebih dekat ke Jawa Tengah dibandingkan dengan bekas pusat kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan di Malang. Pada masa ini Malang hanyalah sebuah wilayah yang tidak begitu penting kedudukannya.

MASA KERAJAAN KEDIRI, DAHA DAN JENGGALA

Dinasti berikutnya yang menguasai Kediri setelah kemunduran Mataram Hindu adalah keturunan Sindok, Dharmawangsa, Airlangga dan terakhir Kertajaya (1216 - 1222). Pada masa ini pusat kekuasaan beralih ke Daha / Jenggala sedangkan daerah Malang menjadi sebuah wilayah setingkat Kadipaten yang maju dan besar terutama sebagai dalam bidang keagamaan dan perdagangan, dipimpin oleh seorang Akuwu.


MASA KERAJAAN SINGOSARI

Singosari dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar di tanah Jawa yang disegani diseluruh Nusantara dan manca negara. Singosari semula adalah sebuah Kadipaten dibawah kekuasaan Raja Kediri yaitu Kertajaya. Kadipaten tersebut bernama Tumapel dipimpin oleh Akuwu Tunggul Ametung yang kemudian direbut kedudukannya oleh Ken Arok. Ken Arok kemudian mengembalikan pusat kekuasaan ke daerah Malang setelah Kediri ditaklukkan. Selama 7 generasi Kerajaan Singosari berkembang pesat hingga menguasai sebagian besar wilayah Nusantara. Bahkan Raja terakhir yaitu Kertanegara mempermalukan utusan Maharaja Tiongkok Kubhilai Khan yang meminta Singosari menyerahkan kekuasaannya.


Singosari jatuh ketangan Kediri ketika sebagian besar pasukan Kertanegara melakukan ekspedisi perang hingga ke Kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Namun tidak lama kemudian pasukan Kediri berhasil dipukul mundur oleh keturunan Kertanegara yaitu Raden Wijaya yang kemudian dikenal sebagai pendiri Kerajaan Majapahit. Pada saat yang hampir bersamaan Raden Wijaya juga harus menghadapi serbuan dari armada Tiongkok yang menuntut balas atas perlakuan Raja Singosari sebelumnya (Kertanegara) terhadap utusannya. Armada Tiongkok inipun berhasil dikalahkan oleh Raden Wijaya berkat bantuan dari Penguasa Madura yaitu Arya Wiraraja.


MASA KERAJAAN MAJAPAHIT

Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Majapahit menaklukkan hampir seluruh Nusantara dan melebarkan sayapnya hingga ke seluruh Asia Tenggara. Pada masa ini daerah Malang tidak lagi menjadi pusat kekuasaan karena diduga telah pindah ke daerah Nganjuk. Menurut para ahli di Malang ditempatkan seorang penguasa yang disebut Raja pula.

Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok. Ini menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru (Telaga Ranu Gumbolo) dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung Bromo - Tengger - Semeru serta Gunung Arjuna adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.

ASAL USUL NAMA KOTA MALANG

Nama Batara Malangkucecwara disebutkan dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam Singhasari (tahun 908). Diceritakan bahwa para pemegang piagam adalah pemuja Batara (Dewa) Malangkucecwara, Puteswara (Putikecwara menurut Piagam Dinoyo), Kutusan, Cilahedecwara dan Tulecwara. Menurut para ahli diantaranya Bosch, Krom dan Stein Calleneis, nama Batara tersebut sesungguhnya adalah nama Raja setempat yang telah wafat, dimakamkan dalam Candi Malangkucecwara yang kemudian dipuja oleh pengikutnya, hal ini sesuai dengan kultus Dewa - Raja dalam agama Ciwa.

Nama para Batara tersebut sangat dekat dengan nama Kota Malang saat ini, mengingat nama daerah lain juga berkaitan dengan peninggalan di daerah tersebut misalnya Desa Badut (Candi Badut), Singosari (Candi Singosari). Dalam Kitab Pararaton juga diceritakan keeratan hubungan antara nama tempat saat ini dengan nama tempat di masa lalu misalnya Palandit (kini Wendit) yang merupakan pusat mandala atau perguruan agama. Kegiatan agama di Wendit adalah salah satu dari segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok (Singosari - Kegenengan - Kidal - Jago : semuanya berupa candi).

Pusat mandala disebut sebagai panepen (tempat menyepi) salah satunya disebut Kabalon (Kebalen di masa kini). Letak Kebalen kini yang berada di tepi sungai Brantas sesuai dengan kisah dalam Pararaton yang menyebut mandala Kabalon dekat dengan sungai. Disekitar daerah Kebalen - Kuto Bedah - DAS Brantas banyak dijumpai gua buatan manusia yang hingga kini masih dipakai sebagai tempat menyepi oleh pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain kedekatan nama tempat ini adalah nama daerah Turyanpada kini Turen, Lulumbang kini Lumbangsari, Warigadya kini Wagir, Karuman kini Kauman.

Pararaton ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun sesudah masa Kerajaan Singosari menggunakan bahasa Jawa Pertengahan dan bukan lagi bahasa Jawa Kuno sehingga diragukan sebagai sumber sejarah yang menyangkut pemerintahan dan politik. Penulisan Pararaton sudah .

Namun pendekatan yang dipakai para ahli dalam menyelidiki asal usul nama Kota Malang didasarkan pada asumsi bahwa nama tempat tidak akan jauh berubah dalam kurun waktu tersebut. Hal ini bisa dibuktikan antara lain dari nama Kabalon (tempat menyepi) ternyata juga disebutkan dalam Negara Kertagama. Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa puteri mahkota Hayam Wuruk yaitu Kusumawardhani (Bhre Lasem) sebelum menggantikan ayahnya terlebih dahulu menyepi di di Kabalon dekat makam leluhurnya yaitu Ken Arok atau Rangga Rajasa alias Cri Amurwabumi. Makam Ken Arok tersebut adalah Candi Kegenengan.

Namun istilah Kabalon hanya dikenal dikalangan bangsawan, hal inilah yang menyebabkan istilah Kabalon tidak berkembang. Rakyat pada masa itu tetap menyebut dan mengenal daerah petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang hingga diwariskan pada masa sekarang.

MASA KOLONIAL

Setelah kemunduran Kerajaan Majapahit yang terdesak oleh Kerajaan Mataram Islam, daerah Malang semakin ditinggalkan bahkan dijauhi karena kultus Dewa - Raja dan agama Hindu bertentangan dengan ajaran Islam. Peninggalan peradaban Hindu - Ciwa tidak lagi diperhatikan karena sisa pengikut Kerajaan Majapahit yang memeluk agama Hindu Ciwa menyingkir ke daerah Tengger dan keturunannya dikenal sebagai masyarakat Tengger sekarang.

Kedatangan bangsa kulit putih antara lain Portugis, Belanda dan Inggris pada akhirnya mengakibatkan kemunduran Kerajaan mataram sehingga Nusantara jatuh kedalam masa penjajahan. Dalam masa pertengahan penjajahan menurut Buku History of Java karangan Gubernur Jenderal Raffles (1812), Malang merupakan daerah perkebunan dibawah Kabupaten Pasuruan. Malang berkembang pesat setelah ada jalur kereta api dan dibukanya berbagai perkebunan terutama tebu untuk industri gula. Sampai saat ini dua pabrik gula peninggalan kolonial masih beroperasi yaitu PG. Krebet Baru dan PG. Kebon Agung.

MASA KEMERDEKAAN

Pada masa sesudah Proklamasi Kemerdekaan di Malang didirikan Pemerintah Daerah Sementara dan pada masa Perang Kemerdekaan (Clash I 1947 dan Clash II 1949) daerah Malang menjadi basis perjuangan baik politis maupun gerilya.

Berbagai pasukan antara lain TGP dan pasukan Hamid Rusdi sangat terkenal dengan kegigihan dan keberaniannya. Salah satu pertempuran dahsyat dalam mempertahankan Kota Malang yang selalu dikenang adalah front Jalan Salak (kini Jalan Pahlawan Trip). Pada saat itu gugur 35 orang anggota Brigade 17 Detasemen I Trip Jawa Timur. Di bekas lokasi pertempuran tersebut kini didirikan Monumen dan Makam Pahlawan Trip. Makam Pahlawan yang lain terletak di Jalan Veteran tidak jauh dari Jalan Pahlawan Trip.

MASA ORDE LAMA

Pergolakan politis pada akhir masa Orde Lama juga terjadi di Malang karena aktifitas PKI / Komunis cukup banyak mempengaruhi masyarakat terutama golongan pemuda. Terjadi rapat2 umum, demonstrasi, kerusuhan dan bentrokan fisik antara pendukung Komunis dengan pendukung Pancasila, salah satunya yang terkenal adalah penyerbuan Gedung Sarinah sekarang. Akhirnya kelompok Komunis dapat dikalahkan dan melarikan diri ke daerah Blitar sehingga dilakukan operasi militer Sandhi Yudha yang mengakhiri petualangan Komunis di Indonesia.

MASA ORDE BARU

Kota Malang berkembang pesat pada masa Orde Baru berkat perkembangan perekonomian yang semakin baik dan semangat masyarakat yang kuat untuk meraih hari depan yang lebih baik. Berbagai kegiatan pembangunan di segala bidang terus dilakukan dan memberikan hasil yang memuaskan.


MASA REFORMASI

Malang sebagai Kota Pendidikan juga menjadi salah satu barometer aksi yang menggulirkan reformasi. Ribuan Pelajar dan Mahasiswa turun ke jalan untuk memperjuangkan hak rakyat dan prinsip demokrasi hingga berhasil. Dan perjuangan terus dilanjutkan di daerah antara lain dengan mengupayakan pemilihan Pimpinan Daerah (Walikota) yang demokratis.


http://www.indowebster.web.id
Baca terus ...

Museum dan Kebun Binatang Bertaraf Internasional Di Batu, Malang



 dari kiri ke kanan : musium satwa, pohon inn dan batu secret zoo

Keterangan :

berdiri di lahan sebesar 12 hektar Batu secret zoo, musium satwa dan pohon inn ada lah nama tempat rekreasi di Batu, jawa timur. terletak dalam satu kompleks lokasi memudahkan kita untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. terletak 71km dari kota surabaya. lokasi batu secret zoo berdekatan secara bersebrangan dengan Batu night spectakuler (biasa disingkat BNS). Secret zoo dapat ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi maupun bis pariwisata.

Musium satwa:
merupakan musium indoor yang berisi banyak diorama2 mengenai hewan-hewan dari perbagai penjuru dunia, mulai dari kelas vertebrata seperti mamalia, aves ikan2an dan kelas averbebrata seperti bangsa insects, molusca dll. selain diorama, terdapat juga beberapa fosil, dan pada jam-jam tertentu ada pertunjukan yang disajikan untuk para pengunjung. musium satwa juga menyediakna guide yang profesional untuk pengunjung. memiliki ruangan edukasi mengenai berbagai macam satwa sehingga selain berfungsi sebagai tempat rekreasi, musium satwa juga berfungsi sebagai sarana pendidikan untuk para pelajar.

hal yang perlu diperhatikan :
- dilarang membawa makanan dan minuman dari luar (akan ada pemeriksaan di pintu masuk)
- musium satwa menyediakan banyak sekali sopt untuk berfoto, jadi siapkan memori kamera yang banyak ya
- pakailah pakaian senyaman mungkin, karena kita akan berjalan dengan jarak tempuh yang lumayan
- jagalah selalu kebersihan .


Pintu MAsuk Batu Secreet Zoo

 pertama kali masuk kita akan disambut ini
lokasi diorama
rumah serangga di Batu Secret Zoo



Pohon Inn 

lokasi penginapan yang unik tang terletak ditengah-tengah antara musium satwa dan batu secret zoo. tersedia 4 kelas kamar mulai dari 300rb semalam hingga 900rb perkamar.


Fasilitas :
- breakfast untuk 2 orang
- breakfast, dinner dam tiket masuk secret zoo dan musium satwa untuk 2 orang (weekend only)
- pemandangan di beranda langsung menuju ke bagian dalam secret zoo

hal yang perlu diperhatikan
- waspadai kalau mau menginap pada saat weekend, karena harga kamarnya bisa naik hampir 2x lipat, tentunya dengan tambahan fasilitas




Batu Secret Zoo

kebun binatang yang berisi banyak sekali binatang2 eksotis dan unik dari seluruh belahan dunia. beberapa kandang binatang memiliki pagar rendah, jadi kita dapat dengan dekat berinteraksi dengan mereka. memiliki pembagian area, mulai dari bingatang pengerat, buas, reptil dll. beberapa lokasi kandang sangat unik. kita bisa berjalan-jalan tepat dibawah kandang leopard, ataupun berjalan diatas lantai kaca, dimana tepat dibawah kita berdiri adalah kandang harimau putih..bener2 tempat yang menyenangkan. batu secret zoo sudah memiliki rute yang sudah disediakan. jadi selama kita mengikkuti rute yang disarankan, tidak usah kuatir akan ada wahana yang terlewatkan. jikalau anda merasa capai berjalan, anda dapat menyewa motor (sejenis mobil golf) yang dapat anda gunakan untuk berkeliling wahana, harganya cukup terjangkau yaitu Rp.100.000 untuk 3 jam pemakaian

hal-hal yang perlu diperhatikan:
- bawalah payung, karena lokasi di outdoor kita tidak tahu kapan akan terjadi hujan atau tidak
- gunakan sunblock
- tidak ada larangan membawa makanan dari luar, tetapi jangan memberik kaman hewan sembarangan
- jagalah kebersihan




untuk foto lebih banyak dan detil bisa lihat postingan agan ongisngalam disini gan

harga tiket masuk :
 


info lebih lanjut mengenai tempat rekreasi ini:
Info Pohon Inn, Batu Secret Zoo, dan Museum Satwa:
Jl. Oro-Oro Ombo no. 9
Telp. (0341) - 5025777
Email: marketing@jawatimurpark2.com
Website: http://www.jawatimurpark2.com

Sebagian Koleksi Satwa Batu Secret Zoo
 
 
 
 
 
 
 
 
 


sumber : http://travelogy.info/forum/index.php?topic=6.0
Baca terus ...

Batu Mirip Sun Go Kong Yang Ditemukan di Purwodadi Dihargai 300 Juta

Sersan Mayor TNI AD ini tak sengaja menemukan batu mirip kera. Batu itu ia posting di Facebook, tak dinyana ditawar Rp 65 juta oleh orang Belanda, ditawar 10.000 USD oleh orang Jepang. Wow!
Andy Suwarno sang tokoh utama dalam kisah ini pun panik! Ia makin bingung ketika beberapa orang asing di facebook menanyakan nama batu (lihat foto) temuannya itu. Anggota Kodim 0718 Pati ini pun segera menghubungi para pebonsai senior yang dianggapnya punya pengetahuan luas tentang penjing dan suiseki.

Dari para pemberi petuah, Andy kemudian memutuskan untuk sementara tak menjual batu mirip kera yang didapatnya dari perbatasan Purwodadi – Blora saat berburu batu buat suiseki itu. Beberapa saran tentang nama batu itu juga dia terima. Ada yang menyodorkan nama ‘King of Ape’, ‘The Last Emperor’, ‘The Drunken Monkey‘, ada pula yang menyodorkan nama ‘Duke of Moenyoek’ segala.

“Tetapi saya kemudian memutuskan untuk memberi nama batu ini Sergeant Major (Sersan Mayor) Sun Go Kong. Selain Kolonel, sersan mayor kan sangat ditakuti di Amerika. Hahahaha ….” ujar sersan mayor TNI AD ini bersemangat, sambil memondong Sersan Mayor Sun Go Kong.

Andy berkisah, suatu saat dia hendak berburu bakalan bonsai di perbatasan Purwodadi – Blora, Jawa Tengah. Ketika hendak mendongkel pohon Rukem, tiba-tiba matanya tertumbuk bongkahan tanah liat berwarna merah yang sangat mencurigakan sebesar beduk masjid. Dari permukaannya mencuat sedikit batu purba.

“Saya punya feeling kuat pada bongkahan tanah liat itu. Teman-teman waktu itu menganggap sia-sia saya bawa pulang bongkahan tanah liat itu. Eh … begitu saya semprot pakai selang air, munculah bentuk batu mirip kera,” kisah Andy.

“Jika tawaran terus berdatangan begini, terus terang saya pusing. Saya sedang berfikir untuk melepas Sersan Mayor Sun Go Kong di angka 30.000 dolar Amerika,” tambahnya.

Aslinya Andy adalah penggemar bonsai. Dia punya sekitar 12 bonsai yang siap lomba, sekitar 20 bonsai yang siap turun di kelas prospek, dan puluhan bonsai mame maupun bakalan. Penjing dan Suiseki baru ia geluti sekitar satu setengah tahun belakangan ini.

Sumber : http://www.bursabonsai.com/
Baca terus ...

Keunikan Festival 5 Gunung Yang Mengelilingi Magelang

10 Juli, Puncak Festival Lima Gunung ke-10

Seniman petani Komunitas Lima Gunung (KLG) Magelang, Jawa Tengah, menyiapkan agenda kebudayaan tahunan mereka secara mandiri "Festival Lima Gunung Ke-10". Ketua Umum Panitia FLG Ke-10, Ismanto, di Magelang, Rabu (8/6/2011), mengatakan, puncak festival itu akan digelar pada 10 Juli 2011 di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, kawasan di antara Gunung Merapi dengan Merbabu.

Lima gunung yang disebut sebagai nama komunitas seniman petani setempat itu meliputi Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Pegunungan Menoreh. Lima gunung itu mengelilingi Kabupaten Magelang. "Kami melibatkan ribuan anggota komunitas yang tergabung dalam berbagai kelompok kesenian rakyat," katanya. Ia menjelaskan tentang penyelenggaraan festival tahunan secara mandiri itu antara lain karena tidak mengandalkan sponsor maupun mengajukan permintaan bantuan dana kepada berbagai pihak.

Seluruh biaya penyelenggaraan, katanya, ditanggung oleh setiap anggota komunitas. "Kami iuran sendiri untuk menggelar festival mendatang," kata Ismanto yang juga pemimpin grup teater Gadung Mlati, Dusun Ngampel, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, itu.

Pada kesempatan itu ia tidak menyebut perkiraan jumlah dana yang bakal dikeluarkan untuk agenda kesenian dan kebudayaan seniman petani tersebut. Berbagai kesenian yang akan digelar, antara lain, soreng, topeng ireng, jatilan, warok bocah, topeng saujana, lengger, kuda kepang papat, wayang orang kontemporer, wayang kertas, teater, musik truntung, madyo pitutur, gojek bocah, drama tari, tari kukilo, grasak, dan performa, serta orasi budaya.

Selain itu, katanya, festival dimeriahkan dengan pameran lukisan, pameran foto, dan peluncuran buku. Pimpinan Sanggar Cahyo Budoyo Sumbing, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, di lereng Gunung Sumbing, Sumarno, mengatakan, festival tahunan KLG itu telah ditunggu oleh seniman petani setempat. "Itu ajang silaturahmi kami, tempat kami yang para seniman petani ini bertemu dan mengungkapkan kegembiraan melalui kesenian dan budaya," kata mantan Kepala Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, itu dengan menggunakan bahasa Jawa. Hingga saat ini, katanya, seniman petani setempat melakukan berbagai persiapan untuk memeriahkan FLG Ke-10 tersebut.

 
 
 
 
 
 
 
 
 





Festival Lima Gunung



Fenomena Lima Gunung

Indonesia adalah satu-satunya negara yang terletak di antara dua patahan lempengan bumi, jadi tak heran jika di Indonesia banyak sekali gunung dan pegunungan. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus gunung berjajar dari ujung barat nusantara sampai ujung timur nusantara. Dan dari banyaknya gunung yang ada di Indonesia. muncul fenomena menarik yang hanya ada satu di dunia. Adalah kota magelang yang menjadi fenomena tersebut. Kenapa ? Karna magelang adalah satu-satunya Kota yang dikelilingi oleh 5 gunung sekaligus. Yaitu gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Telomoyo, dan Menoreh.

Magelang 5 gunung:

Karena kota magelang terletak di antara 5 gunung, maka daerah di kota magelang dan sekelilingnya menjadi daerah yang sangat subur dan sangat cocok untuk pertanian. Dan atas karunia inilah maka kemudian setiap tahun diadakan festival lima gunung yang diadakan di daerah magelang (setiap tahun berganti tempat).

5 Gunung Itu adalah :

Gunung Merapi:


Gunung Merbabu:


Gunung Sumbing:


Gunung Telomoyo:


Gunung Menoreh:



Sumber
http://99ratiz.blogspot.com/2011/03/satu-satunya-kota-di-dunia-yang.html
http://oase.kompas.com/read/2011/06/09/12151491/Komunitas.Lima.Gunung.Siapkan.Festival

Sumber : danish56.blogspot.com
Baca terus ...

Populer